Rabu, 11 November 2009
Sorry seems to be the hardest word...
Ketika menjadi dekat dan lebih sering berada bersama, justru semakin kuat juga memori tertuju. Bukan kepada orang yang baru tapi pria lama yang berlalu. Dan pesan balasan ini akan disatir sebagai obrolan yang tak lama akan disudahi.
Kata orang frustasi. Ketika aku lebih sering berdiam menyendiri, melamun, menghela nafas panjang, kemudaian memegang kepala sambil mendesah "...aaaaaaarrggghh!!"
Aku telah tercipta dengan kecil hati, melankolis, pesimis, dan berteman akrab kesepian. Beberapa hal yang terakumulasi dan jika tanpamu.
Kata orang buang-buang waktu. Apa mau dikata? Jika bahagia ini tak berbentuk rasa yang minimal sama, apakah harus memaksakan diri? Aku hampir tak pernah mengikhlaskan diri berpura-pura atau mencobanya terlalau lama.
Keadaan yang selalu sama, berakhir dengan gelap, lampu disko yang berputar, alunan mendayu, rokok, tulisan dan beberapa tetes lagi. Aku menemukan hebat dengan caraku. Kata orang aku tak berguna. Biar saja, mengerti apa mereka?
Aku membuka mata, yang ada di depanku cuma kamu, kami membisu. Biarkan yang akan terjadi maka terjadilah. Bukankah setiap hari aku sudah meminta diberi lebih mudah? Salah atau berserah? Berbalik pada apa yng pernah terucap, bukan masalah tampang, harta, atau akhlak... aku mencari masa depan! Aku begitu tak peduli apa yang aku punya sekarang... tapi aku takut tak berpunya ketika menua... Biar sekarang bersedikit harta, banyak dosa, dan jauh dari keluarga... tapi bohong jika aku tak membutuhkan kenyamanan nantinya. Aku mencarimu, mencari kamu yang bisa membawaku seperti itu.
Yang dijanjikan Tuhan adalah yang terbaik. Yang setiap hari terselip diantara ucap doa. Yang sampai detik ini bahkan aku rasa datang terlalu awal hingga aku mengaku kehilangan.
"Maaf..." adalah kata pertama, kamu akan tau kalimat lengkapnya seperti apa. Saya wanita lemah yang tak tau diri, dengan maksut tak mau membohongi karena hanya bisa seperti ini...
Jika masih ada pertemuan selanjutnya, tetaplah seperti ini jika kita bisa. Kalo tidak semoga tidak dipaksakan. Semoga kebaikan yang tak berbalas akan menjadi benih, benih yang menghasilkan buah yang akan segera dipetik berlipat...
Biarkan saja saya mematung dan sendiri. Saya cukup bahagia.
Menjauhlah...
Fryda : lebih suka menyingkir daripada pura-pura menikmati...
Senin, 09 November 2009
Face the Farewell...
Jika nanti aku tak lagi bisa berada disampingmu.
Tidak ada lagi genggam hangat atau sekedar berucap selamat.
Aku sedang berpikir untuk pergi, satu cara yang menempatkanku lebih sendiri.
Bukankah sepi adalah sahabat terbaik. Dengan tidak perlu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang aku.
Bukankah dengan ini beban berkurang perlahan?
Aku ingin menjadi lampu kota yang menguning redup di sudut jalan.
Mengamati beberapa pasang yang memadu kasih, mengantar beberapa lagi menuju rumah hangat setelah mengadu kisah.
Yang hanya bersinar ketika yang lain lelah dan gelap.
Sendiri.
Baik-baiklah dimanapun ia,
sampai bertemu jika nanti aku atau kamu bisa saling mengunjungi.
Kenang-kenanglah apa yang bisa kutempati,
di pikiran atau di hati.
sama saja kalo memang tak terganti...
Sebelum terlambat,
terimakasih karena kamu pernah ada di cerita yang tertulis di sini.
Fryda : berkemas, kemana saja dan tanpamu.
Kamis, 05 November 2009
U're friends indeed!
Semoga kamu dan ia menjadi kalian.
Semoga selalu berbahagia, sampai tidak perlu lagi mencari.
Fryda : mencari sahabat yang tidak datang dan pergi sesuka hati.
Rabu, 04 November 2009
R.E.G.R.E.T
Sejak mengambil konsekuensi belajar demi kompetensi pun merubah rutinitas.
Bukan masalah aku lupa berlibur atau hura-hura.
Sepulang kerja pun masih bisa.
Kata orang kaki jadi kepala, kepala jadi kaki.
Akhir pekan lalu malah pulang subuh dan cuma tidur 2 jam,
berangkat lagi tanpa bikin tugas.
Banyak hal yang akhirnya kulakukan dengan asal2an...
Gak ada value atau kualitas.
Menyudutkan membuat merasa semakin BODOH.
Aku menyesal kenapa mental selalu lemah,
menyesal kenapa masa muda (bahkan sampai sekarang) tidak memiliki totalitas untuk belajar banyak hal.
Semakin memaksa mengakui, menyesal :(
Selamat datang November, berarti 2 tahun posisinya tak terganti.
Memupuk rindu yang tak pernah terjawab oleh siapapun lagi.
Hai pria mata coklat, kamu masih saja... lekat...
Fryda : berharap masih banyak waktu untuk belajar dan tidak menyerah.
Senin, 12 Oktober 2009
Welcome to the world, Princess!!
Malaikat kecil kami datang juga, katanya bermata sipit tak seperti kami. Syapa namanya saya belum mengira sebelum bertemu ajaibnya.
Ia akan mengisi urutan kami yang lama terhenti. Ia akan mengisi sepi rumah dengan tangis dan tawa riangnya sesekali.
Saya berdoa untuknya semoga menjadi apa yang dinanti, murah hati, kecantikan, kebaikan.
Selamat datang, selamat bergabung,
kami telah lama menanti.
Saya serahkan mahkota ini, teruskan saja nak...
kamu pasti bisa menari lebih baik :)
Fryda : menjadi Tante, sekarang.
12 Oktober 2009
Kamis, 01 Oktober 2009
Rain washing in pain...
saya membuka mata pagi ini.
Semoga musim penghujan periode Oktober-April Mu jadi datang.
Membasuh peluh serta keringat susah.
Mengirim rizki bersama tetesMu kapan saja.
Melindungi Indonesia karena Teroris serta Bencana.
Aku tahu, wahyu Mu telah membenarkan.
Anugerah tidak selalu berwujud indah.
Semoga itu yang membuat kami tak terlupa...
Fryda : menggeleng pelan karena tak tau akan menjawab apa.
Rabu, 30 September 2009
Future Cast!
Bahkan sudah dirasa beberapa waktu lalu.
Bersamaan dengan niat berangkat ke ibukota tapi tak ada nafsu disana.
Oh masa depan, berwujud apakah engkau nanti??
Minggu, 27 September 2009
where's a better life? humming.
September telah mengantarkanku ke dalam banyak tempat. Beberapa tahap hidup seperti berputar dengan sendirinya. Apakah ini yang Kau namakan September (yang seharusnya) Ceria?
Yang pertama adalah ketika akhirnya memulai tahap baru sebagai penghuni bangku edukasi untuk sebuah kompetensi. Di antara berguru, bertemu teman-teman baru, serta menyusun anak tanggaku sendiri, semoga pejalanan 2 tahun ke depan akan menempatkanku lebih tinggi.
Yang kedua adalah bergabungnya saya menjadi pegawai tanpa embel-embel masih dikenalkan. Dengan kartu nama serta nominal baru. Terima kasih, sekalipun tunjangan ini tak begitu bernilai lebih tapi berhasil mengantarku berwujud tiket pulang bertemu keluarga. Semoga sekembalinya nanti aku akan lebih baik bersama mereka. Karena beban hidup ini lebih pada tanggung jawab untuk menampilkan fikir diri sebaik mungkin. Sampai terlupa ide hebat ini harus seperti apa. Aku masih merabanya, setiap hari. Lorong masih gelap, jalan masih bebatuan tak beraturan. Sesekali menurun pelan namun lebih sering terjal. Saya masih sendiri. Tak punya seseorang lagi yang membantuku menemukan jawabannya. “Kuat-kuatlah Fryda….!!”, begitulah saya semangati diri sendiri setiap hari.
Yang ketiga adalah caraku menikmati lebaran kali ini. Ketika umur bertambah, memang seharusnya ada yang berubah lebih baik. Saya merenung, perubahan ini seperti apa? Apa saya tak menyadarinya, atau pelik memang tak ada yang berubah? Aku kembali menafikan ini. Aku sudah cukup tua untuk menyudahinya, tapi kapan?
Lebaran ini dilewati dengan beberapa anggota dari kami urung pulang karena berbagai alasan. Lebih sepi memang, tapi tak mengapa. Berjumpa dengan orang rumah saja membuatku senang bukan kepalang. Pertanyaan tetap sama, dimana calon? Haaahh… saya tak perlu berkecil hati, tak punya jawabku.
Sungkem selalu menjadi bagian yang membawa haru, aku harus memberi laporan diri. Mata menahan tetes, dan ucap mulai bergetar. Oh Tuhan, bahagia-kah mereka menemuiku? Bangga-kah mereka terhadapku?? Sepertinya belum.
Yang keempat adalah berbagi waktu bersama teman-teman. Tidak pernah cukup waktu untuk menemui mereka semua.
*Berawal dari mudik kami yang sangat ceria. Dimana terselip berbagai koreksi dari seorang teman. Perbincangan hangat dengan pemandangan lampu kota, menguning hangat.
*Bertemu teman-teman yang saya banggakan : Vera, Ojie, Antolele, Akwin, Bagus, Ical, Andhang, Gufi, dll. Tidak lengkap memang, tanpa sebagian lagi yang belum kembali.
*Perjalanan ke Solo bersama Kiky, Rendra, dan Imam Senoaji berakhir dengan karaoke dahsyat! Saya menikmati setiap perjalanan sampai setiap lagu yang kita nyanyikan bersama. Menyenangkan!
*Shooting Video Klip yang seharusnya saya tak disana. Tidak begitu total menikmatinya, tapi ya sudahlah… Bertemu GreenHouse lebih cepat dan beberapa teman baru yang tak begitu kenal. Apa yang saya takutkan pun benar terjadi. Jaket, rokok, ipod, dan kacamata hitam pun menyembunyikan perasaan saya saat itu. Bisa diduga akan berakhir seperti apa.
*Buka puasa bersama dan reunian teman-teman SMA, juga perjalanan menuju pantai bersama. Tak lupa terselip seseorang bermata coklat yang tetap teduh menatap. Oh tidak! Saya selalu lemah menghadapinya. Selalu ada yang bergetar sekalipun saya menolak berlama-lama.
*Begitupun kunjungannya yang tak terduga. Pemilihan waktu yang tak tepat sehingga berbarengan dengan beberapa teman kami. Aku memutuskan turut pada kunjungan balasan. Tak berarti apa, sekalian meminta surat sakit untuk ijin kerja. Terakhir membuatnya semakin sering mengirim pesan melalui messenger. Aku cukup membatasi diri. Aku tak mau jatuh lagi. Ini sudah cukup dan tak terganti.
2 hari ke depan aku akan berada pada rutinitas keseharian di kota kapital. Aku tak mau begitu merasa terpaksa, tapi ini yang dirasa. Perlu keberanian yang tak biasa untuk memulainya, lagi. Sampai berapa lama untuk seperti ini? Butuh berapa waktu lagi untuk mengubah diri? Target 2 tahun ke depan semoga terpenuhi.
Selalu melankolis untuk berfikir dan merasakannya sendiri. Apalagi seorang lagi berkata akan pergi. Dengan demikian akan menambah jadwal kesendirian di kota tanpa pengertian. Aku bisa apa?
Libur lebaran telah berakhir.
Dengan menyebut namaMu aku akan memulainya kembali.
Oh Tuhan maha pemberi jalan hidup, mudahkanlah…
Fryda : Semoga bisa menjadi awal baru, maaf untuk khilaf fakir, ucap, dan perbuatan.
Selamat Idul Fitri 1430 H. Minal Aidzin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.
Rabu, 02 September 2009
Happy 23rd Grainy Day!
Dengan begitu, semoga saja siapapun yang tertuang akan mengucap rasa yang sama...
Aku telah berjanji untuk memberikan tempat untuk seorang sahabat. Sebut saja begitu. Sekalipun saya tak begitu mengerti ia akan menempatkan dan menyebutku seperti apa.
Frisky Anggrainy, nona muda yang memang seceria namanya. Aku hampir tak pernah melihatnya bersedih. Hanya sempat memberinya tissue saat ia meneteskan air mata menjelang fajar tiba. Itupun karena tangis haru membaca doa Ayah saat ulang tahunnya. Menyenangkan ia mempunyai nama yang tepat!
Sebuah panggilan yang akan terus diingat, membuat ia menemukan nama lain yang indah. Grain Graini. Aku tersenyum memahami ketika mengerti asal 2 kata yang memorable itu.
Tidak begitu lama untuk kami mulai berbagi. Aku selalu bilang, yang aku punya adalah yang ia lihat. Tidak ada yang disembunyikan dan dibatasi untuknya. Dari tiap cerita yang terbagi, sebagian adalah keadaan yang sama yang membuat kita berlanjut sampai menjelang pagi. Kualitas hidup, rencana, usaha dan doa kami, serta cerita pria masa lalu lebih mendominasi.
Tak jarang, obrolan tak begitu penting serta tingkah yang selalu membuat kami tertawa terbahak! Tertawa lepas!
Dan beberapa orang lagi disekitar kami turut membuat andil, menyenangkan ketika kita selalu berbagi bersama teman-teman...

Selamat ulang tahun teruntuknya, semoga sehat bahagia dan selalu dalam lindungaNya.
Dewasa bukan hanya pautan umur dan jumlahnya. Ia akan mengerti lebih baik dari sebelumnya.
Saya punya sebuah kotak bergambar semoga bisa ia simpan.
Semoga ia tidak cepat bosan untuk berkunjung atau perbincangan tanpa batas teknologi.
Saya tak begitu mengerti tapi semoga bisa selalu seperti ini semampu kami.
Maaf atas segala bentuk ketidakmampuan. Fasilitas yang terbatas, bahkan terkadang ego saya yang membuat kita sama-sama terdiam dan meninggalkan sebentar. Nanti juga pasti akan kembali. Semoga semakin dewasa kami berucap, berfikir, dan ber-buat...
Terima kasih untuk kalimat-kalimat yang menguatkan, menghibur, dan mereka simpati.
Mengeluhlah padaku, atas apa yang aku laku salah. Mengeluhlah mengapa tak pernah ada semilir angin yang mendinginkan kepala selain itu. Mengeluhlah mengapa ruang itu terlalu panas untuknya. Mengeluhlah mengapa tak pernah ada gambar bergerak di sudut ruang. Mengeluhlah karena kau mesti meluruskan punggung beralas bidang yang menyisakan dingin lantai. Mengeluhlah atas semua yang ada di ruang peradaban saya. Tak mengapa... apalagi yang saya bisa kecuali berucap maaf...
Nanti ketika semakin beranjak tua, semoga masih sempat mengenang. Apa yang dirasa dari perkenalan yang semoga tak terlambat.
Pelajaran hidup memang tak selalu berasal dari yang Ia beri,tapi juga yang Ia ambil dari kami.
Doa terbaik dari saya.
Fryda : terima kasih selalu menyenangkan sekalipun dengan cara sederhana...
Senin, 31 Agustus 2009
I'm gonna turn my thoughts to you...
Sebagain besar dari ini memang berbentuk perubahan.
-Aku bilang akhirnya GreenHouse tidak selamanya menyenangkan.
Konflik kewanitaan, karir yang tak mudah diprediksi, atau tiba-tiba kesenangan yang selalu dipaksakan. Konfrontasi di dalamnya, sudah aku coba untuk membantu meredam. Tapi satu kompor minyak meledak membakar apa yang kami punya.
Ya Tuhan, aku hanya punya mereka di sini. Kembalikan bahagia, karena teduh memang berasal dari rumah hijau kami.
- Seorang pria yang akrab di pesan kotak masuk, pikiran, serta penghujung telfon -pun akhirnya memilih pergi. Mungkin ia sudah lelah untuk mengerti pribadi ini seperti apa.
Aku yakin ia baik dan seharusnya mendapat yang lebih baik dari ini.
- Beberapa gambar tentang pria masa lalu mengusik. Kali ini sengaja aku buka, dan membuatku merindu. Satu gambar lagi mengabadikannya lebih gagah. Ia jauh lebih mapan dan berbahagia.
Aku yakin sekali ia rimbun oleh kasih sayang serta limpah materi. Saya memilih berbalik dan melangkah melawan arah...
- Semoga Tuhan sudi menyisakan beberapa orang lagi. Yang mau tinggal dan berbagi biarpun sedikit yang aku miliki. Semoga Tuhan tidak mengambil apa yang kusebut sesuatu bernama sahabat. Sekalipun terkadang aku tak masuk dalam list prioritasnya, saya yakin sekali. Semoga bosan jangan datang tergesa.
Beberapa harap yang tak lelah saya minta padaNya. Disetiap doa yang tiada henti mengalir ketika menemuiNya. Semoga Tuhan tunjukkan jalan, semoga Tuhan membahagiakan orang tua dan keluarga, semoga Tuhan mengirim rejeki yang halal dan melimpah, semoga Tuhan membawa kepada posisi lebih syarat ilmu dan pengalaman, semoga Tuhan melindungi dan memberi selamat, semoga jodoh benar akan datang tepat pada waktunya.
Di sela puasa dan ikhtiar tentang kualitas hidup sekarang.
Fryda : hidup ini selalu berwarna, walaupun terkadang hanya hitam dan putih saja.

